Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sebutir Peluru

>> Jumat, 29 Mei 2009





Aku tahu setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Aku juga tahu, bahwa di balik kematian akan ada kebahagian. Tapi, bagaimana jika kematian itu terlalu menyakitkan? Mungkin aku akan siap terjun bebas ke jurang. Melupakan segala hal yang rumit dalam pikiranku.
Sejenak, aku memang terdiam. Tanpa ada yang tahu, aku melamun begitu jauh. Aku tak mengerti kenapa orang-orang membaca yasin. Aku juga tak pernah tahu, kenapa orang-orang berdatangan cuma untuk membaca sebaris kata-kata asing lalu pulang tanpa ada kata.atau paling tidak ucapan duka cita. Atau apalah. Begitukah tradisinya? Aku tetap tak mengerti.
Ketika semua orang pulang, aku berlari ke dalam kamar. Menangis sejadi-jadinya. Bahkan mengutuk Tuhan tanpa ada sesuatu yang disembuyikan. Aku melempar jilbabku. Mengacak-ngacak rambutku. Berjingkrakan di atas tempat tidur.
Aku sudah gila!
Kupikir.
Tapi sanggupkah kegilaan mengalahkan kelakuanku akhir-akhir ini. Lantas kenapa perang tak pernah memberi kesempatan buat orang hidup bahagia. Kenapa perang selalu mencipta suara ribut; dan berakhir pada sebuah tangisan. Sejak tadi, ketika orang-orang membereskan rumah, aku justru membereskan diri dari linangan airmata. Begitu senyap. Kamarku sangat sepi. Aku tahu orang-orang pasti mendengar suara ribut yang kuciptakan. Tapi mereka juga tahu, sangat pantang mengetuk pintu ketika aku mengamuk.
Dalam seminggu ini, mungkin aku sudah mengamuk puluhan kali. Mungkin sudah banyak orang kukutuk. Aku bahkan tak pernah lagi menyentuh Al Qur'an. Apalagi membacanya. Tapi dalam hal-hal lain, aku malah gemar melakukannya. Seperti keluar malam. Lalu pulang keesokan harinya. Aku sering membuka jilbabku ketika kupikir perjalananku tidak terlalu jauh.
Orang-orang memang terlalu aneh melihatku. Kenapa tidak? Aku, yang dulu, begitu sopan dalam berpakaian dan berperilaku, berubah menjadi anak hutan. Seisi kepalaku terisi semak belukar. Tanpa ada benteng, aku bebas keluar masuk. Bahkan ke area-area terlarang sekalipun.
Kematian terlalu membuatku sakit hati. Juga sangat membuatku takut. Terlampau jauh dia menyeretku hingga jauh dari Tuhan. Allah Yang Maha Perkasa. Seperti yang kubilang, perang tak pernah menyisakan kehidupan. Begitu juga dengan peluru-peluru yang berdesing. Meski terjadi beribu-ribu mil dari sini, tapi desingan itu sangat mengangguku. Begitu mengangguku hingga aku terlalu sering menutup telinga. Darah-darah yang bergelimpangan; juga mayat-mayat di sana-sini membuatku takut untuk kelihat dunia. Maka, aku sangat suka menutup mata akhir-akhir ini.
Aku terlalu tenggelam dalam ketakutan akan kematian. Dalam benakku, bukankah kematian adalah hal yang umum? Bukankah kematian memang harus ada? Tapi aku berpikir lagi, kenapa harus terlalu cepat? Apakah kematian tak pernah memberi kesempatan sama sekali? Bahkan buatku?
Ibu yang terlampau sering memelukku tak pernah kucium lagi. Meski ia berulang-kali mengelus dada dan mengatakan, "sabar" terus menerus, sehingga membuatku sakit kepala.
"Banyak-banyak istighfar, ya."
"Banyak-banyak istighfar, yaa."
"Banyak-banyak istighfar!"
"BANYAK-BANYAK ISTIGHFAR!!"
Kalimat itu semakin lama semakin berubah mengerikan. Alhasil, kalimat itu kubuang. Tak sempat kubakar, maka kucampakkan saja ke bawah kolong tempat tidur. Lalu aku meninggalkannya. Berlari tanpa suara. Bahkan ibupun tak mendengarnya.
"Hidup itu jangan ditebak-tebak. Biar dia dan semua elemennya menjadi bagian dari nafasmu." Kata ibu berulang kali. Berkali-kali. Hingga bisa kukuadratkan ratusan kali. Dan membentuk penyangkalan yang sangat besar.
"Hidup kita di tangan Tuhan…"
"Hidup kita di tangan Tuhan…"
"Hidup kita di tangan Tuhan…"
"Hidup kita di tangan Tuhan…"
Dan aku membalas, " TUHAN TAK PERNAH MENGERTI HIDUPKU!"
Dan kenyataannya memang itu yang kurasakan. Desingan peluru itu masih terus terdengar. Mayat-mayat masih terus tercipta. Hingga aku bisa mencium bau busuknya. Bau yang pengap. Bau ayahku.
Hah, ayah??
Bayangannya memelukku. Siluetnya mengajarkanku pada sebuah pengendalian diri. Aku masih bisa mengingat saat-saat ia mengajarkanku bagaimana caranya beristiqamah. Menyerahkan diri pada Allah saat aku sudah lupa dengan tubuh sendiri.
Lantas kenapa saat ini aku lebih suka bertindak sesukanya? Kenapa ayah tak pernah mengingatkanku soal istiqamah? Akhir-akhir ini aku memang suka mengucapkan kalimat seenaknya.
"Jika perang tak pernah usai, maka tamatlah Tuhan." Kataku.
"Kenapa kamu bicara begitu?"tanya ibu.
"Sangat jelas 'kan, Bu. Kalau Tuhan tak memahami kehidupan kita."
Ibu mengelus dada, "Masya Allah. Istighfar. Istighfar. Kematian ayah, bukan satu-satunya alasan untuk menyalahkan Tuhan. Bahkan Allah tak pernah pantas disalahkan."
"Jangan terlalu teoritislah, Bu. Juga jangan terlalu agamis. Hidup itu berjalan sesuai apa yang kita mau. Begitu seharusnya. BEGITU SEHARUSNYA!"
Aku pergi! Berlari… Hingga aku kehilangan arah. Aku lupa membawa kunci ketika aku pergi. Tapi tak terlalu kupikirkan. Kunci adalah satu-satunya alasan untuk menjadi orang bodoh. Dan arah terlalu memberi pilihan yang sulit. Sehingga aku harus jeli dalam menentukan. Antara hitam dan putih. Kiri dan kanan. Dan apapun itu. Tapi aku justru memilih abu-abu.
Akhhh…..!
Satu-satunya alasan aku pergi dari rumah adalah karena rumah bukan tempat yang tepat untuk mengutuki dunia. Aku semestinya pergi ke daerah tinggi. Berdiri di tepi jurang. Lalu, ketika angin berhembus kencang, maka aku akan siap untuk memaki dunia.
"Kau renggut ayahku!!" aku menangis sejadi-jadinya.
"Lihat, dunia. Lihat!" kataku sambil memegang sebutir peluru, "kalian bisa mencium darah dari peluru ini. Inikah yang dinamakan keadilan!"
Aku berlutut, “mungkin kalian senang dengan kematian? Apa hubungan kalian dengan kematian, hah? Kenapa kematian tak pernah memberikan kebahagian? Kenapa mesti ada kematian?
Dan aku tercampak. Pada area-area gelap. Masa lalu penuh dengan tantangan. Bukan! Masa lalu penuh kebiadaban. Tapi aku mencoba keluar. Paling tidak, aku mencobanya ketika aku mulai menyadari bahwa hidup bukanlah satu-satunya tujuan untuk menyalahkan Tuhan. Mencoba untuk memilih alasan yang tepat untuk mengakhiri erosi yang menggerus kepercayaanku padaNya. Ketika masa silam kembali menyapaku. Dan mungkin, kali ini, aku akan merasa terombang-ambing.

***

"Tidurlah yang nyenyak. Besok pagi, kita tahajjud bareng." Kata ayah.
Di atas ranjang itu, aku merasakan kenyamanan. Kenyamanan yang teramat sangat. Sehingga–mungkin–aku lupa bahwa cobaan itu selalu hadir pada setiap manusia. Pelukan itu dan ciuman itu. sangat hangat bila aku mencoba untuk mengingatnya lagi. Membuatku tak pernah bangun bahwa hidup selalu menyimpan rahasia. Dan membukanya saat kita berada pada posisi-posisi paling kritis.
Ayah yang baik. Ayah yang selalu memuji. Juga ayah yang selalu mengingatkanku. Begitu polos wajahnya hingga aku sadar bahwa ia terlalu perih buat dilupakan.
Ayah selalu menasehatiku agar selalu raja' pada Allah. Yaitu mengharap kepada Allah untuk sampai ke jalanNya. Jalan yang terang. Penuh keabadian. Penuh cahaya dan kita tak pernah bisa menciptakan cahaya sehebat buatan Allah.
“Allah itu selalu memberikan kemudahan bila kita memudahkan agamaNya.”
Itu kata ayah.
Tapi dulu. Dulu. Dan sudah bertahun-tahun lalu, hingga akhirnya aku harus berpisah di bandara dengannya.
"Nggak usah terlalu mendramatisir keadaan. Ayah cuma pergi sebentar, kok."
Dan ternyata, kata 'sebentar' itu bukan merupakan sebuah denotasi. Justru kata itu adalah metafora dari keadaan yang sebenarnya. Hidup di dunia memang terlalu sebentar ketika kita membandingkannya dengan waktu akhirat. Dan itulah yang menjadikan kata 'sebentar' menjadi metafora yang mampu membohongiku. Juga banyak orang yang menyayangi ayah. Juga kehidupanku selanjutnya. Dan aku memang telah lama menjadi anak kecil. Sehingga sulit melepaskan diri dari kemandirian.
Sampai pada suatu ketika, aku akan benar-benar menangis mengetahui bahwa ayah sudah tewas. Ia dikembalikan ke Indonesia dengan tubuh penuh lubang. Wajah diselipi debu yang hanya bisa kulihat sendiri. Satu bentuk kemandirianku yang pertama. Sebuah bentuk dimana akan terasa sangat pedih ditinggal orang terkasih. Dan itu berimbas pada keyakinanku akan takdir.
Aku pikir, takdir selalu membuat orang kesusahan. Aku pikir, orang akan bermatian karena takdir. Sehingga aku harus membenahi diri untuk menghadapi takdir yang mungkin akan lebih merepotkan.
"Sabar, Almira. Banyak-banyaklah berdoa kepada Allah. Ayahmu akan tenang di sana." Kata Safria, sahabatku.
Safria adalah orang dulu mesti kuhindari. Ya. Sangat kuhindari karena ia akan selalu menceramahiku. Membosankan. Tapi ketika aku dalam kesulitan, justru Safria menjadi orang yang paling kucari. Seperti ketika aku benar-benar berada di ujung tanduk. Ketika tepi jurang tak memperbolehkanku untuk berdiri tegak. Aku benar-benar kecarian seorang Safria.
Suaranya bergemuruh di dalam batinku. Ucapannya mengenai kebesaran Allah tertancap dan tak bisa lepas dari pikiranku. Mungkin ia bisa mengantarku mencari kunci pintu rumah yang hilang. Sehingga aku bisa masuk, membaca Al Qur'an, dan shalat berjama'ah dengannya.
Lalu aku akan kembali menjadi orang dewasa seutuhnya.
Tapi di mana Safria saat aku mencarinya? Sementara aku makin terselubung oleh kegelapan. Jurang itu semakin menggeserku. Semakin menggoyahkan sikapku. Lalu, apa aku harus berdoa? Tapi aku tak tahu bagaimana cara berdoa. Justru Safria yang dulu mengajarkanku berdoa. Tapi ia tak ada di mana-mana.
Kenapa?
Lho, kenapa aku malah terjerumus ke dalam gua. Padahal cobaan yang aku hadapi tak semenyakitkan itu. Toh, semua orang akan menyaksikan kematian. Bahkan mengalaminya. Lantas di mana kepalaku saat aku mesti berpikir tentang orang lain yang mengalami cobaan yang lebih berat dariku?
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, "di mana kepalaku?"
Kemudian ada sesuatu yang menjawab, "cobalah cari. Kau masih ingat pada Allah, 'kan?"
"Ya." Kataku.
"Maka, cari dulu Allah. Maka kau akan ingat di mana kau meletakkan kepalamu. Dan kau bisa memulai memikirkan orang lain."
Lalu aku berkata, "masalahnya., aku tak tahu bagaimana caranya mencari Allah. Bisa kau tunjukkan jalannya kepadaku?"
"Terlalu sulit, Almira. Kau yang menentukan jalanmu, 'kan. Kau bilang, hidup harus sesuai dengan yang kau inginkan. Maka, buatlah jalan sesuai yang kau inginkan."
Aku menjerit! "Nggak. Aku nggak bisa sama sekali! Tolong! Tolong aku!"
"Jangan biarkan jalanmu masuk ke jurang. Tentukan arah. Tentukan arah." Dan perlahan suaranya menghilang.
Aku bergeming. Sebenarnya, siapa sebenarnya Allah. Kenapa aku pernah mendengarnya. Bagaimana bentuknya? Apa dia? Tuhankah? Atau apa? Tak ada orang yang memberitahuku. Aku sudah jauh dari ibu.
Apa kematian harus berimbas semenyakitkan ini?
Ini sangat sulit.
Sementara itu, aku terus melanjutkan pencarianku mengenai Safria. Kini, sampai di mana aku? Sunyi selalu menghambatku mencari Safria. Mungkin karen aku tak pernah memegang kunci. Betapa menyesalnya aku. Kenapa aku tak membawa kunci itu ketika aku pergi?
Rupanya, aku meninggalkannya di dalam rumah. Ah! Melelahkan. Aku harus kembali ke rumah. Berjumpa dengan ibu lagi. Malunya aku… Aku merasa malu karena menjadi liar. Bahkan aku menjadi bodoh. Lalu, aku berpikir lagi. Jika kunci itu kutinggalkan di dalam rumah, lantas bagaimana aku mengambilnya?
Ah!
Berpikir!
Berpikir!
Berpikir!
Apa yang mesti aku lakukan?
Apa aku harus mendobrak pintunya? Tapi rumah ibu bisa hancur. Aku sama sekali tak mempunyai hak atas rumah itu. Cuma ibu. Tapi aku tak mungkin menemukan kunci tanpa masuk ke dalam rumah.
Lagipula rumah terlalu jauh buat kujangkau. Tanpa kepala. Tanpa sesuatu yang dapat kugunakan untuk melihat arah. Aku kacau.
AKU KACAU!!
Berpikirlah Almira! Berpikir.
Ke mana otakku yang jenius? Oh, iya, ia kutinggalkan di dalam kepala.
Ya ampun. Aku benar-benar dalam masalah sekarang. Kenapa aku bisa bertindak bodoh. Ayah, tolong aku. Tolong aku!
Kemudian, aku mendengar suara gemerincing dari atas. Suaranya sangat memekakkan telinga. Aku hampir terduduk karena tak tahan mendengar suaranya. Lalu tiba-tiba, suara ayah terdengar.
"Memintalah pada Allah. Memintalah pada Allah."
Suara itu menghilang.
'meminta pada Allah'.
Kalimat itu menembus dadaku hingga jantungnya berdebar. Gederam yang sangat asing berkelebat di dadaku. Desingan peluru. Darah-darah yang memuncrat serta rasa benciku pada nama Itu.
Apakah itu yang dinamakan setan?
‘MEMINTALAH PADA ALLAH’
‘MEMINTALAH PADA ALLAH’
‘MINTA PADA ALLAH ALMIRAAA!!’
Teriakku dalam hati.
Benarkah itu harus kulakukan? Sementara aku sudah lupa dengan Allah. Akankah Allah mengabulkan permintaanku? Sementara aku sudah jauh meninggalkannya.
Setelah cukup lama berpikir, tanpa kusadari, aku telah bersimpuh. Embun menyemai pipiku hingga basah kuyup. Embun yang tak biasa. Inikah tangisan karena mencintai Allah? Begitu nikmat. Tak senikmat tangisan ketika aku meratapi kematian. Mungkin inilah jawabannya. Aku menengadahkan kedua tangan. Aku berbicara, tapi aku tak mendengar suaraku. Cuma dadaku yang bisa kurasakan berbicara dengan Allah. Allah Yang Maha Pengampun. Allah Yang Maha Pengasih.
Aku memang tak menemukan kunci saat pintu terbuka. Tapi aku menemukan kunci yang sebenarnya. Kunci, yang pada akhirnya, dan selama-lamanya kusebut ia sebagai Allah. Kunci dalam metafora keabadian. Bahkan kunci itu tak hanya membukakan rumah, dan mempertemukanku dengan ibu dalam keadaan bahagia.
Aku juga menemukan Safria.

Lubukpakam, 2008

Read more...

Kematian dan Peramal

>> Sabtu, 18 April 2009




Pintunya tak berdaun. Wilayah dalam hanya tersekat oleh kain panjang dibelah dua berwarna merah darah. Yang permukaannya berkelap-kelip layaknya janda genit. Auranya, ah, bau minyak urang-aring. Muncul asap dari celah-celah dinding tepasnya yang memancar sinar hitam kelam. Sebuah pertanda akan datangnya ruh tak berdosa menuntut balas.
Tak bisa dipastikan saat itu siang, atau malam. Karena ayam berkokok seperti pukul sebelas pagi. Tapi nyatanya, selubung awan tebal mengitari gubuk kecil reyot tua bangka itu. Pusaran awan gelap yang melingkupi hati seorang syirik. Tapi, lebih membawa keberuntungan bagi si pemilik. Dan bisa dipastikan, tua bangka itu bakal melamar satu isteri lagi. Menggenapi empat isterinya yang berkurang satu karena penyakit kulit aneh itu.
Ruang kerjanya adalah dua keris yang menyilang di dinding. Dibawahnya adalah patung jin yang wajahnya buas seperti gizzly. Dingin, tajam, tak berpikir untuk merasa kasihan, dan satu-satunya yang ia makan, adalah daging manusia.
"Kalian tahu! nasib siapa yang pernah lolos dari mataku, hah! Ibumu, bapakmu, nenek-kakekmu, aku selalu bisa menebak kebenaran." Teriaknya.
Beberapa hari lagi akan terjadi banjir bandang.
Begitu katanya.
Maka orang-orang berduyun-duyun pindah rumah, dan desa itu menjadi sepi. Seketika, gemuruh meremuk-redamkan orang-orang yang masih percaya tuhan. Sebagian dari mereka mati binasa. Otaknya bercampur lumpur, dan pasti, penduduk desa menjadi biadab seketika. Tua bangka itu, telah menjadi tuhan.
Garis nasib adalah cecunguk-cecunguknya yang payah. Ia hanya memerlukan kemenyan, kencing kelelawar, dan tahi kumbang buat mencerca nasib dalam kepalanya. Tak satupun lengeser dari kaliamt-kalimat sakti itu.
"Kau bisa membantuku, tua bangka?"
"Apa?"
"Ramalkan aku tentang keburukan."
"Apa tujuanmu?"
"Aku ingin mencegah keburukan, tua bangka tolol!"
Wajahnya memerah. Matanya berkobar. Sang-Penakluk-Api-Hitam. Begitu julukannya jika sedang membabi-buta. Biasanya ketika itu, bidikannya tentang kematian, penyakit, kegilaan, menjadi tepat sasaran. Ia mengucapkan mantera-mantera. Mulutnya membiru. Wajahnya seperti longsor. Membenamkan seluruh warna putih dalam pikirannya yang abu-abu. Dan kini telah menjadi hitam.
Ruangannya adalah kumpulan iblis-iblis tentang kematian. Ia, akan meramalkan sebuah perkara. Sebuah ketololan. Maka, lelaki itu, yang berucap kata 'tolol' padanya, tak mudah selamat dari ramalannya. Lelaki itu bergeletar. Bibirnya tak mampu ikatup. Ternganga seperti lubang langit yang memecahkan kesepian. Serupa badai, ruangan itu diselimuti hujan deras. Hanya milik si tua bangka itu.
Di langit-langit rumahnya, seperti akan ada hujan meteor hitam. Membentang dari seluruh penjuru dunia. Seperti akan datang sebentuk iblis yang akan menerkam lelaki itu. Panjang, ekornya sepanjang naga. Matanya semerah darah. Dan mulutnya sebau kulit busuk manusia.
"Apa yang kau lakukan, hah?" kata lelaki itu.
Tapi tua bangka itu tak berhenti mengoceh. Asap dari kemenyan, anehnya, semakin banyak. Memenuhi hampir langit-langit ruangan. Empat isterinya mengungsi ke hutan. Tempat anak-anak iblis dilahirkan diam-diam.
"Bicaralah yang benar, tua bangka."
"Aku tahu, kau yang mengirim iblis-iblis ke rahim isteriku. Membunuhi bayi-bayi kembarnya. Membuntuti ritual sucinya. Dan kau, mengirim ular ke permukaan kulitnya. Bajingan!!"
Lelaki itu tersentak.
Bicaranya aneh.
Tak dapat diduga, ia bisa terbang. Tubuh bongkoknya bisa menahan berupa-rupa setan dikepalanya.
"Apa maksudmu, tua bangka! Bicaralah yang benar."
"Mau apa kau ke sini?"
"Jelas suapay kau mau meramalku. Tapi kau, kini, sedang terbang."
Kembang tujuh rupa berputar-putar di dalam kendi. Airnya sedingin kutub. Dari dasar kendi, terlihat pertukaran jiwa yang amat menyakitkan. Neraka jahanam. Menggema. Mengutuki si tua bangka. Tapi si tua bangka, Si-Pengaku-Tuhan menagkalnya dengan asap kemenyan. Maka, kutukan itu pergi. Disepaknya keluar lewat buih-buih kekuatan hitam.
Lelaki itu menarik pelatuk pitolnya. Ia gemetar. Panik. Tak tahu harus melakukan apa. Kini, ia berada dalam lingkungan setan. Lencana dikantungnya tersungkur keluar. Tua bangka murka. Ia semakin menjadi-jadi. Maka, diletupkannya amarahnya hingga ruangan tak diketahui lagi bentuknya.

***
Sudah sebulan ini, Sersan Ali mengincar begundal-begundal nasib sialan itu. Tak tahu di mana tempat tinggalnya. Tapi ia berusaha mencari sendiri. tua bangka itu sudah keterlaluan. Dibiarkannya penduduk minggat dari desa karena isu banjir sudah tersebar ke mana-mana. Polisi susah dibuatnya.
"Tapi betul. Setahun lalu, diramalkannya seorang wanita bakal melahirkan anak sapi. Lalu besok siangnya, betul-betul lahir anak sapi dari rahim manusia. Apa itu namanya kalau bukan tepat sasaran." Kata seorang petani.
"Ah, itu hal biasa." Tampik Sersan Ali.
"Tak tahukah kau, bahwa dia bisa meramal kematianmu. Kau pahami itu betul-betul!"
Kantor polisi siang itu, hanya disibukkan dengan urusan ramal meramal. Perbincangannya tak jauh dari si tua bangka itu. Maka, Sersan Ali mengambil tindakan. Ia melemparkan gelas ke tembok, dan pecah menjadi ribuan ketegangan.
"Hei, apa maksudmu?" kata petani itu menciut.
"Dasar, makhluk udik. Masih percaya kalian dengan ramalan. Kalian lebih percaya batu ketimbang tuhan, air kencing ternakpun kalian sangka dokter. Mana ilmu kalian. Sekolahkah kalian!" teriaknya.
Sersan Ali berdiri di atas meja. Lebih tinggi dari orang-orang. Ia berkacak pinggang. Memegang gagang pistol yang masih disarungnya. Sekadar mengancam.
"Sholat kalian sekarang! Ambil wudhu, biar iblis-iblis itu tak mengancam pikiran kalian lagi!"
Siang itu terik. Sersan Ali memang tak sempat mengacungkan moncong pistolnya ke udara karena memang ia tak berniat melukai. Tapi orang-orang desa masih menuntut tempat tinggal mereka. Mereka mengancam akan menginap di kantor polisi jika rumah baru mereka tak segera direalisasikan.
"Mana ada rumah baru! Kami tak punya anggaran untuk itu!"
Sersan Ali loncat dari mejanya. Ia memasukkan lagi pistolnya ke sarungnya. Ia duduk. Mengetuk-ngetuk meja dan memejamkan mata sebentar.
"Dasar kalian makhluk-makhluk kotoran kambing. Bikin susah negara! Berpikrlah pakai ilmu. Buang jauh-jauh mitos kuno kalian!" katanya geram.
Sulit menghilangkan kemarahan jika Sersan Ali merah mukanya. Kupingnya panas. Mulutnya keluar api menyala-nyala. Setahun penuh, ia hanya dhantui persoalan-persoalan serupa. Seminggu lalu, ada penduduk yang minta ganti rugi karena kotoran kambing yang dimakannya membuat ia diare habis-habisan. Bulan lalu, ada yang mengancam bunuh diri kalau batu petirnya tak segera dikembalikan kepada pemiliknya.
Dan hari ini, tua bangka itu bikin ulah lagi. Setelah ia dibebaskan dari penjara karena menyumpah hujan meteor akan melanda negeri ini, tua bangka itu malah membuat persoalan semakin runyam. Bayangkan, dua puluh satu kepala keluarga akan menginap di kantor polisi. Satu keluarga, bukannya punya satu dua anak. Satu keluarga, umumnya, ada dua isteri, satu ayah, dan sembilan anak. Itupun, karena petuah tua bangka itu. Dua isteri lebih baik daripada satu, katanya. Maka, mengekorlah para penduduk desa.
Para suami berlomba-lomba mencari isteri baru. Sementara sang isteri, mungkin karena matanya hijau, iapun rela mengawinkan adiknya dengan suaminya sendiri. sementara sang adik, bahkan lebih gila hijaunya ketimbang sang kakak.
Maka, Sersan Ali tak mau diam. Ia pergi ke desa tua bangka itu. Pura-pura menjadi penduduknya. Dan pura-pura menjadi pasien setianya.
Berulang kali ia minta diramal. Berulang kali juga, kematian menyinggahinya. Awalnya ia tak peduli karena yang mati hanya unggas-unggas peliharaannya. Tapi, ketika yang mati mulai dari kucing kesayangan nabi, pohon kurma, dan ikan mas kesayangannya, ia tak bisa menahan amarah.
Ia mendatangi gubuk reyot si tua bangka itu. Empat isterinya saat itu sedang mencari buah-buahan di hutan. Rupanya mereka mengidam rambutan hutan. Maka, tinggalah tua bangka bongkok penyot itu di dalam.
Dengan muka merah, Sersan Ali duduk dihadapan tua bangka itu. Wajahnya lugu. Pura-pura tidak tahu. Sok malu-malu.
"Seperti biasa, kau masih kelihatan goblok." Kata tua bangka itu.
Sersan Ali mengangguk. Tersenyum.
"Kau mau kucarikan isteri, hah?"
"Aku sudah punya isteri." Katanya.
"Dua isteri lebih baik daripada satu isteri, Ali."
Sersan Ali menunduk. Ia membenamkan wajahnya di balik kendi-kendi si tua bangka. Sementara itu, tua bangka itu masih memutar-mutar tangannya di atas kendi. Mengucapkan mantera-mantera secara wajar.
"Bicaralah yang benar, tua bangka tolol."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, aku ingin diramal tentang ketololanmu itu. Kegilaan anehmu tentang kematian." Serasan Ali tertawa. Cekikikan.
Maka, dengan senang hati, tua bangka itu menyiramkan air dari kendi ke wajah Sersan Ali. Sersan Ali murka. Ia keluarkan pistolnya dan membenamkannya di mata si tua bangka.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menurutmu apa? Membunuhmu?"
Si tua bangka hanya tertawa. Terbahak-bahak. Ia puas dengan kata-kata itu. Karena ia pikir, kematian tak pernah singgah padanya.
"Kalau kau berani, maka kau bisa membunuhku. Tapi kau tak pernah berani membunuh karena kau seorang polisi tolol. Keluargamu pasti mati! Dan isterimu, tak segan-segan aku tuahkan anak tuyul dari rahimnya."
Maka, dengan senang hati ia letuskan pistol itu ke mata si tua bangka. Dengan sekejap, tua bangka itu menggelepar seperti ikan tak dapat air. Sersan Ali, dengan wajahnya yang seperti naga berkobar keluar dari kandang tengil itu. Tersenyum-senyum.
Besok paginya, ia mengumumkan kepada penduduk bahwa banjir tak kan pernah terjadi dan si tua bangka penyok berengsek itu sudah mati.

***
Tapi di tengah hutan, di gubuk setan, empat isteri tua bangka itu akan bersiap-siap melahirkan. Mereka menyiapkan segala macam bunga untuk menyambut kelahiran. Tak ada dukun beranak, tak ada bidan. Mereka melahirkan sendiri. hanya burung-burung elang dan beruk-beruk yang melihat kelahiran bayi setan itu.
Dan satu per satu, tak diduga tak disangka. Dari rahim mereka berempat, rupanya anak tuyul yang lahir.

10, April

Read more...

Hujan untuk Penyair

>> Jumat, 20 Maret 2009

Maka malam itu ia mulai menulis puisi: tentang bagaimana caranya tertawa. Buku pertamanya adalah suara tentang seorang perempuan. Dia, adalah lelaki yang tak pernah diajarkan tertawa. Beberapa hal tentang Rindo adalah beberapa hal mengenai malam. Ia tak pernah percaya kehidupan kecilnya menghadapi masa-masa yang aneh. Tak bisa ia bayangkan bahwa kesulitan itu berubah menjadi puisi-puisi di buku antaloginya.
Sebenarnya Rindo memiliki banyak waktu untuk menjumpai anak dan mantan isterinya. Pagi, siang, sore, malam, pagi lagi hingga menjadi pagi yang tak terlupakan. Anaknya seperti tak pernah mengenal ayah sama sekali. Katanya, ayah adalah wujud imajiner hanya pada mimpinya saja. Itupun, kalau ia bermimpi buruk saja. Isterinya, Karine, tak bisa berbuat apa-apa selain menggendong dan membawa masuk anaknya ke rumah. Lantas ia akan ditinggal sendiri di teras rumah itu.
Maka, puisi untuk malam ini, adalah mengenai anak ayam yang dilahirkan tanpa induk. Ia terlahir dari batu. Menelisip dari angin. Mengeluarkan suara lewat cairan dari jantungnya. Matanya terbuka persis naga yang mengintip dari lubang dinding milik anak-anak yang ketakutan. Gelap melakukan agresi sadis. Menyerang tanpa ampun anak-anak di dalam rumah tanpa mengenal tidur. Naga-naga itu, kini, telah berubah di jantung Rindo.
Padahal anaknya masih tiga tahun. Ia bercerai dengan isterinya baru tiga bulan. Dan selama tiga bulan itu ia tak pernah dikenal oleh anaknya. Sepertinya kekecewaannya mulai runtuh menjadi penyesalan. Tak disangka pagi tadi anaknya bahkan melemparkan sandal padanya. Kalau tidak dicegah oleh Karine, maka ia akan pulang berdarah-darah karena dilempar batu bata oleh anaknya.
Entah apa yang ia lupakan dari sejarah lamanya. Iapun dalam sekejap menderita amnesia akut. Tak ingat nama anaknya. Tak ingat nama isterinya. Lebih parah, ia tak ingat sejarah pernikahannya bersama isterinya. Ia hanya ingat tentang puisi-puisinya. Secara keseluruhan, puisi itu menjadi isteri pengganti setelah Karine melupakan Rindo. Paling tidak ia akan bergairah mendengar puisinya tentang hujan. Ia berkiblat pada kesedihan hujan. Karena malam itu, adalah malam terakhirnya menulis sebuah puisi.
***

Sangat pagi sekali, Rindo menemui Karine di simpang rumahnya. Malam tadi ia menelepon Rindo, ingin bertemu. Pelukan singkat itu rupanya cuma pengantar basa-basi untuk mengusir dingin. Karena bekas-bekas hujan tak menyisakan kehangatan buat mereka berdua. Keduanya duduk di warung yang masih kosong. Masih gelap. Tapi mereka masih bisa bersenda gurau yang sekali lagi cuma untuk mengusir kekikukan saja.
“Ternyata kau masih belum banyak berubah, ya.”
“Ya, begitulah. Dalam banyak hal aku memang tidak berubah.”
“Tapi sepertinya kau makin sering menulis, ya.”
“Ya, begitulah. Dalam beberapa sisi, menulis menjadi bagian hidupku.”
“Ah, ternyata kau masih romantis, ya.”
“Ya, begi……” suaranya tercekat. Ia melihat perbedaan. Sangat mengerikan. Persis wajahnya yang sangat menyedihkan.
Dari sudut-sudut paling gelap, ia tak melupakan Karine. Tapi sepertinya Karine cepat melupakannya. Suaranya semakin mengecil. Ia berbicara seperti berbisik saja hingga Karine perlu menanyakan hal yang sama berulang kali. Dari berbagai sisi, siluet mereka terlihat sangat tidak sempurna. Garis-garis lukis yang tak tepat. Titik vertikal dan horizontal yang mengambang seperti hantu gentayangan. Sama seperti pembicaraan mereka yang tak pernah mau menyinggung pokok persoalan. Pada akhirnya, mereka cuma membicarakan kebiasaan sehari-hari, pekerjaan, cara makan atau minum, jam berapa mereka tidur dan bangun, hingga cara mereka mengungkapkan kerinduan.
Rindo, untuk terakhir kalinya–pagi itu–melihat Karine mengenakan kalung pemberiannya sewaktu mereka belum menikah. Karine mengembalikannya lagi. Alasannya:
“Aku takut kalung ini akan membuatku tak sanggup jika harus kehilangan kamu, Rindo.”
Kecupan yang sederhana mendarat di kening Rindo. Kecupan dari mantan isteri kepada mantasn suaminya yang selalu ingin kembali ke sejarah pernikahannya. Sudut-sudut matanya menyisakan rekaman saat-saat terakhir ketika mereka harus meninggalkan rumah mereka dan menempati rumah baru. Entah apa maksudnya mereka meninggalkan rumah itu dan membeli rumah baru. Yang pasti, keduanya sepakat untuk tidak pernah mengungkit-ngungkit lagi soal rumah itu. Terlalu banyak foto yang bercerita tentang kesedihan di sana. Bahkan tak ada satu bendapun yang mereka bawa dari rumah itu. pakaian mereka yang pertama adalah saat pertama kali mereka meninggalkan rumah itu. mungkin mereka sudah terserang rasa cinta yang sangat akut hingga sulit melepaskan kenangan dari benda-benda di rumah itu.
Rindo kembali ke rumahnya. Tak melanjutkan puisinya. Tak berniat berpikir tentang syair-syair yang bermakna. Ia hanya ingin memikirkan sejarah itu. Sulit untuk menghapal kembali sejarah yang hilang. Tak ada buku panduan soal itu. maka, Rindopun berniat mengurusi rumahnya. Dalam sehari ia bisa menjadi ibu rumah tangga yang rajin. Rumah disapu, dipel, piring-piring dicuci, pakaian ia cuci bersih. Dijemur di bawah sinar matahari pagi. Menyapa orang-orang yang lewat saat menjemur pakaian. Membeli sayuran dan memasak makanan yang enak. Seperti menjamu tamu yang istimewa. Tapi, ya, itu memang benar. setiap hari adalah keistimewaan baginya. Ia berpikir, Karine dan anaknya akan kembali ke rumahnya setelah mereka saling bertemu. Ia memikirkan sesuatu yang tak pernah terpikirkan orang lain. Bahwa Karine akan kembali dengan anaknya atau tidak sama sekali adalah urusan yang sangat sakral. Harus ada perayaan setiap hari. Karena sewaktu-sewaktu Karine bisa saja datang ke rumahnya dan menyatakan cinta dengan wajah penuh penyesalan.
Ia juga berharap anaknya mau berlari ke arahnya dan meminta pelukan hangatnya setelah sekian lama ia tak memberikan pelukan hangat itu. Ia ingin bermain bola dengan anaknya sehingga ia lupa menulis di buku harian. Mimpi yang indah mengingat semua makanan enak itu dibuat dari rasa cinta.
Setelah Rindo menyusun peralatan makan dan makanan di meja makan, ia duduk di kursi paling ujung. Kursi itu menghadap pintu depan. Ia sengaja meletakkan ruang makan di depan pintu agar ia bisa melihat Karine terkejut dengan semua masakan enaknya. Apalagi jika setelah itu ia mendapat kecupan mesra yang sulit dilupakan.
Ya, tapi benar, manusia memang bisa berharap banyak. Tapi Karine memang tak bisa dibaca kemauannya. Sulit menentukan apakah Karine akan kembali atau tidak. Rindo sudah menunggu lama di kursi itu. Dan Karine–pada ahri–tak memutuskan untuk kembali.
***

Rindo melihat buku catatan di atas meja kerjanya. Ia tahu bahwa itu puisi yang belum sempat ia selesaikan. Ia terlalu sibuk memikirkan rumus-rumus inspirasi dalam otaknya. Tak ada yang bisa dilakukannya selain berpikir sambil mondar-mandir di depan pintu. Rindo sedang mengalami keputusan yang sulit karena tiba-tiba saja ia ingin sekali kembali ke rumah lamanya. Tapi itu tidak benar. rumah lamanya itu benar-benar sudah lama ia lupakan. Ketidak-benaran itu ia putuskan setelah ia berpikir tentang konsekuensi yang mungkin terjadi. Rumah itu tua. Ia takut rumah itu akan menimpanya karena konstruksinya yang sudah tidak simetris.
Namun keinginan untuk kembali itu terlalu kuat. Jantungnya berdetak kencang. Dalam waktu sesaat, ia sudah bertempur dengan dirinya di sisi lain. Sisi di mana ia memutuskan untuk tidak pergi dan sisi ketika ia benar-benar ingin mengambil sesutu di rumah itu.
Tiba-tiba, amnesia akutnya semakin parah. Ia tak bisa menentukan langkah pertamanya dengan kaki apa karena ia lupa berjalan. Seingatnya tak pernah ada orang yang mengajarkannya berjalan. Ia berjalan karena ingin berjalan. Ia berbicara karena ia memang ingin berbicara. Semua tindakan pengajaran tak mempengaruhi cara ia belajar. Ia terbiasa melakukan semua sendiri. Bahkan memukul anaknya ia bisa melakukannya sendiri. Lebih sadis malah. Ia tak perlu bantuan Karine. Tapi itulah titik perpisahan sesungguhnya. Karena Karine seorang ibu yang tak bisa terus-menerus bersikap sadis kepada anaknya, sementara Rindo, ayah yang tak bisa melepaskan kecenderungannya untuk memukul anaknya tanpa alasan, membuat mereka terpisah ribuan kilometer.
Sangat jauh. Hingga cukup alasan baginya untuk kembali ke rumah itu. Apa yang salah? Itu tindakan yan lazim dilakukan seseorang jika ia ingin mengingat sesuatu. Tempat-tempat menyenangkan adalah tempat yang cocok untuk mengembalikan ingatan masa lalu. Tak ada yang harus dipermasalahkan. Maka, ketika keinginannya semakin kuat, tak ada alasan untuk tidak pergi.
Ia ingin sampai secepatnya. Karena ia masih berpikir bahwa Karine akan datang ke rumahnya. Ia harus melakukan tindakan ini sebaiknya agar ia tidak kembali lagi. Ada beberapa daftar benda-benda yang harus ia ambil di sana. Semua terencana dengan baik. Bahkan ia sudah memikrikan tindakan apa yang akan ia lakukan ketika sudah sampai. Dari mulai ia menginjakkan kakinya di pintu gerbang hingga ia kembali ke mobilnya membawa barang-barang kenangannya. Semua sudah terpikir di kepalanya. Tinggal bagaimana cara aman ia melakukannya agar ia tak tertimpa dinding yang rapuh.
Tak disangka, rumah itu kini memang benar-benar tua. Tak ada yang mengurusnya lagi. Kursi tamannya sudah hancur. Tak memiliki bentuk yang tetap. Tapi ia bisa tahu bagaimana anaknya menangis kesakitan saat ia memukulnya di dekat kursi itu. Menyedihkan mengingat suara tangisan itu masih bisa ia dengar dengan samar-samar. Pohon-pohon saat ia mengantungkan lampu di malam natal. Ada juga lampu gantung di langit-langit yang ternyata lampunya sudah tak ada. Mereka bertransformasi menjadi sebuah kesdihan.
Tapi, lagi-lagi suara Rindo tercekat. Suara-suara kenangan itu tak terdengar. Paling tidak sedikit tidak terdengar jelas karena mungkin mereka takut menghampiri Karine yang berdiri di depan cermin sejak tadi. Ia tahu Rindo datang. Mereka saling diam. Tak berbicara. Entah karena mereka telah melanggar janji atau kembali bertemu di tempat sakral ini.
“Jadi kau ke sini juga, ya.”
“Ya, begitulah. Dalam beberapa kemungkinan, tempat ini menarikku ke sini.”
“Aku masih senang dengan rumah itu.”
“Ya. Semua bisa dilakukan di rumah ini.”
Karine menghadap ke cermin lagi.
“Ah, pantulannya sudah tidak sempurna.” Entah itu memang benar atau ia sedih melihat wajahnya tak secerah dulu.
“Benar.”
“Aku mungkin tak sama seperti dulu. Tapi paling tidak, aku merasa lebih baik karena anak kita sudah mau menerimaku.”
Rindo menangguk.
“Apa ia mau menerimaku?”
“Entahlah. Kau tidak pernah melihat kami lagi. Aku tidak bisa menjawab.”
“Ya, benar. Maafkan aku. Aku hanya takut menerima kenyataan bahwa ia tak mau menerimaku lagi.”
“Semua anak pasti begitu.”
Rindo tercekat.
“Apa maksudmu?”
“Dia masih trauma dengan peristiwa masa lalu. Hal itu membuatnya sakit-sakitan. Tapi, entah ini kabar baik atau tidak, ia sering menjeritkan namamu dalam mimpinya.”
“Oh, benarkah begitu?”
“Ya, ia tampak ketakutan…..ketika….menyebut, namamu.”
“Oh, ya, benar. Memang seharusnya begitu.” Rindo menunduk.
“Aku bertanya padanya, katanya ia ingin bertemu denganmu.”
“Benarkah?”
“Sebenarnya ia mengucapkannya dengan cara berbeda.”
“Maksudmu?”
“Aku melihatnya menggigil. Ia meremas tangannya.”
“Oh, aku tahu. Aku tahu itu.”
“Baiklah, Rindo. Aku ingin tahu apa yang kau lakukan di sini.”
“Tidak. Sama sepertimu. Melihat-lihat.”
“Tidak. Aku tidak ingin melihat-lihat, Rindo. Aku ingin mengambil beberapa benda milik Teo di sini.”
“Oh, begitukah?”
“Ia yang menyuruhku ke sini.”
“Apa ia ikut denganmu, Karine?”
“Tidak. Ia sedang bersama orang lain di rumah.”
Ya, tentu. Orang lain. Rindo bisa memahami itu. Nenek Teo sangat menyayanginya. Ia akan sangat senang menjaga Teo sepanjang hari.
Setelah mengambil beberapa benda, Karine meninggalkan rumah itu. Ia pamit. Dan untuk terakhir kalinya, Rindo mengamati wajahnya yang terlihat bersahabat dengannya. Berarti malam ini, Rindo harus memasak makanan enak lagi.
***

Ia sudah menyiapkan peralatan makan. Makanan yang enak sudah ia masak. Rumah sudah ia rapikan. Dan ia tinggal menunggu Karine mengetuk pintu. Seperti biasa, Rindo duduk di kursi paling ujung yang menghadap ke pintu. Sudah saatnya ia membiarkan dirinya hanyut dalam harapan yang besar. Dan itu memang benar-benar terjadi. Beberapa lama kemudian, Karine datang. Ia tahu karena ketukannya yang khas. Karine akan mengetuk dengan dinamika yang lembut dan tempo yang sangat lambat. Sangat mudah dikenal.
Tapi, lagi-lagi ia tercekat. Ia tak menyangka Karine tak membawa serta Teo. Anak itu hanya melihatnya di balik kaca mobil. Karine bilang, ia tak mau keluar. Mengerikannya lagi, tak ada niat lain yang ingin disampaikan Karine kecuali niat perpisahan. Betapa bodohnya Rindo saat ia mengharapkan Karine agar kembali padanya padahal ia bisa menikah dengan orang yang lebih baik daripadanya.
Namanya Harri.
Laki-laki itu jelas lebih mudah untuk diajak kompromi. Lebih sahabat. Dan lebih pantas berdiri di samping Karine. Ia murah senyum. Dan ia, akan membawa Karine ke luar negeri.
“Kami sudah menikah.”
***

Malam itu, hujan lebat. Rindo melihat sebuah catatan tergeletak di atas meja kerjanya. Ia tahu itu puisi yang belum sempat ia selesaikan. Maka, ia memilih untuk menyelesaikan. Syair-syair tentang hujan itu berdiri di dalam hujan yang berjatuhan. Sangat deras. Seolah-olah hujan itu memang disiapkan untuk Rindo agar ia mau menulis puisi lagi.

Lubukpakam, 2009

Read more...

Clara! Tubuh Mungilmu

>> Sabtu, 17 Januari 2009

Seperti tak ada yang ingin mengundang tamu. Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Meski sebenarnya mereka mendengar rengekan bayi terlantar. Semua orang menutup telinga mereka dengan selimut. Di bawah bulan! Kegelapan langit! Semua orng terlelap persis seperti kerbau….
***
Seorang ibu–perempuan muda–baru saja melahirkan. Di antaranya cuma hadir angin dan semak-semak gatal. Ia melahirkan sendiri! Tanpa bidan, tanpa dukun beranak. Tanpa siapapun di sampingnya. Rengekan bayi mungil keluar dari celah-celah antara malam dan kesepian. Berupa kelambu untuk menutup diri dari serangan nyamuk. Kelambu berupa langit yang terbentang serupa layar hitam pekat.
Wanita itu sebenarnya sudah menyiapkan pakaian bayi yang dikemas dalam sebuah kardus. Ditidurkannya bayi itu di atas pakaian-pakaian tersebut. Wajahnya buram: wajah perempuan! Tapi ia menyandang sebagai pemikat di desanya. Pemikat para lelaki yang tak segan meremas dada dan bokongnya. Juga om-om yang juga tak mau kalah nafsunya. Tapi kini ia terlalu sibuk dengan seorang bayi.
Ia melarikan diri dari rumahnya. Menghindar sejak delapan bulan yang lalu. Sementara perutnya semakin membesar. Dan ia tak sanggup menahannya hingga delapan bulan ke depan. Dan pada akhirnya ia akan melahirkan seorang bayi perempuan.
"Clara…" kata perempuan itu.
Ia tersenyum. Sedikit. Hanya sedikit.
Dari tubuhnya, keluar darah yang tak segan mengambil andil pertarungan arus. Begitu dahsyat hingga pada akhirnya ibu itu harus bergerak mencari perlindungan buat bayinya.
"Clara…" katanya lagi, "anakku." Ia tersenyum lagi.
Ia seakan tak puas dengan rengekannya. Ia ingin mencoba ke tingkat lebih jauh. Perempuan itu berdiri tegak. Mengangkat bayinya dengan dua tangan ke atas. Menjunjung langit yang kelabu. Dan ia seolah-olah jagoan wanita yang sedang menerima titah dari dewa langit untuk membasmi para hidung belang yang semena-mena terhadap dirinya.
Lalu ia berteriak, "dunia! Ini bayiku! Clara… Dan aku melahirkannya dengan kebiadaban…."
Secara logika, langit dan yang lainnya tidak akan bertepuk tangan. Cuma suara-suara gemuruh lampu dan hiruk-pikuk kehidupan kelabu yang berjalan begtiu mulus. Aneh memang. Dentuman-dentuman diskotik bisa menguasai arena yang terkenal dengan adat istiadatnya. Bahkan miras-miras itu bisa menjamu orang-orang secara leluasa. Pun ketika mereka mengunjungi negara yang mengenal Tuhan.
Tapi ia tak peduli. Yang penting Tuhan telah tahu bahwa ia tidak menelantarkan amanahnya seperti perempuan pada umumnya. Dan yang terpenting adalah, meski dengan rasa sakit, ia bisa menebus dosa nenek moyangnya yang dulu melanggar perintah Tuhan. Dan itu sebagian besar dari titah perempuan. Sebagian kecil dari rasa sakit yang ditakdirkan untuk perempuan.
Kemudian ia bergerak bersama bayinya. Ricuh kelapa yang dihembus angin tak membendung niatnya untuk menemui seseorang. Mungkin yang ia kenal. Mungkin yang ia ketahui telah meninggalnya jauh sebelum anak ini lahir. Lantas buat apa? Pikirannya limbung. Apa ia sudah benar-benar kembali dari masa lalu? Tak ada kabar yang pasti. Yang pasti cuma rasa sakit yang tak kunjung hilang. Maka, ia hanya bisa berjalan seperti seorang badut yang selangkangannya diseka busa untuk menimbulkan efek lucu dan gendut di seluruh tubuh. Tapi kelakuannya bukan efek. Itu baru rasa sakit dari takdirnya. Bukan rasa sakit yang semestinya akan ia terima jauh ketika bumi ini terlanjur berubah menjadi akhirat.
***
Clara cukup lucu (bisa dikatakan begitu). Pipinya tembam. Seolah-olah akan meledak. Tapi ia belum diberi susu. Sehingga rengekannya cukup untuk membangunkan semua orang malam itu. Sementara ibunya sibuk dengan buah dadanya yang tak kunjung berisi.
"Sabar, ya, anakku. Clara…ck..ck…"
Sebagian dari hidup Clara memang adalah rengekan. Dan sebagian lagi adalah tidur yang nyenyak. Begitulah hingga ia bisa bicara dan mengenal banyak orang. Tapi malam itu, ia hanya diperkenalkan pada kegelapan. Karena sebenarnya Clara dilahirkan dengan mata yang tak pernah terbuka sama sekali. Atau lebih tepatnya, Clara buta! Hal itu tak disadari oleh ibunya. Karena ibunya masih mengurus buah dadanya.
Di dunia yang setengahnya adalah masa lalu, Clara menjadi bukti terpenting dalam hidup ibunya. Karena ia akan memberikan kehidupan yang panjang. Bisa makan esok harinya. Tidur di samping suaminya. Mandi dengan tenang. Lalu segera menyusui Clara ketika mereka siap bercinta. Tapi cinta seolah menghapus mimpi indah. Lalu menggantinya menjadi mimpi buruk.
Rasa yang menggebu-gebu itu segera melenyap dari ingatan ketika tiba-tiba Floren mengingat rasa yang lebih pahit. Ia lupa Clara belum mempunyai bapak. Dan jelaslah bahwa Floren juga belum mempunyai suami. Di sisi lain, ada suara yang menggerutu di dalam mulutnya. Kemudian berlanjut menjadi rengekan. Persis seperti anaknya.
"Tega kau meninggalkan aku! Rela kau membiarkan Clara! Lantas, apa maumu sebenarnya. Meremas dadaku! Mencumbu leherku! Kemudian kau akan pergi selama yang kau inginkan. Kemudian dunia akan menyembunyikanmu dari pandanganku. Lihat anakmu, Graha! Lihat! Pernahkah kau lihat Clara! Kau pernah lihat bayi buta kudekap dengan rengekan kecil meminta susu!"
Floren lagi-lagi mengangkat anaknya ke atas. Membiarkan langit mencumbuinya. Tapi hal itu dilakukannya hanya semata-mata untuk menunjukkan pada seseorang. Mungkin teman. Mungkin saja setan-setan yang mau meraba Clara sedikit.
Clara! Tubuh mungilmu mulai kaku. Dan kau tidak merengek lagi. Kau tenang sekarang. Paling tidak untuk malam ini. Karena besok pagi, kau akan merengek meminta susu lagi.
Dan lagi-lagi, Floren mengangkat bayinya ke atas. Ia tak puas. Benar-benar kurang puas kalau cuma sekedar berteriak.
"Apa aku perlu bernyanyi, ya?" katanya.
Lalu ia mulai bernyanyi dengan bayinya. Ia duduk di depan plang yang cukup besar. Tapi cukup tragis jika melihat kondisi Clara yang masih menyusui. Floren mulai meninabobokan bayinya. Meski gelap, meski ia berharap bahwa Tuhan menemu Clara dan mengambilnya. Jadi, ia berpikir akan bebas. Karena setelah itu, Floren mungkin akan melanjutkan profesinya.
Entah apa profesinya tapi ia masih ingin melanjutkannya.
"Uang di mana-mana. Uang di mana-mana. He..he.."
Kini ia benar-benar seperti orang gila.
Floren menimang-nimang bayinya. Sementara Clara sudah tidur. Sangat tenang. Tapi kemudian, ia terbangun tengah malamnya. Dan Floren melanjutkan perjalanannya mencari Graha.
Clara merengek lagi. Tapi kali ini lebih keras. Kini ia seperti drakula, Kawan. Mengerikan. Pada titik-titik tertentu, Clara dan Floren akan menemui kegelapan persis ketika mereka menutup mata. Sayangnya mereka tidak pernah menemukan mimpi. Karena sebenarnya mereka hanya berbincang seputar kehidupan. Dan Clara berbincang seputar kebodohan ibunya.
Ketika bulan menyepuh tubuhnya yang kering, Floren memaksakan dirinya untuk terus berjalan. Wajahnya sudah sangat kelelahan.
"Graha! Graha!" ia berteriak.
Begitu kuat hingga menghidupkan seluruh lampu jalanan. Membuyarkan ratusan mimpi yang sedang diputar. Boskop di atas kepala kita mengalami gangguan. Sinyal-sinyal listrik yang terpancar telah dikuasai oleh teriakan: Floren.
Saking kerasnya, seorang pria bertubuh agak tegap dan tinggi keluar rumah. Melihat sekelilingnya hingga matanya menemukan Floren dan Clara. Dipicing-picingkannya matanya karena ia merasa harus menemui mereka. Pria itu terusik dengan panggilan-panggilan Floren yang tak masuk akal ketika tengah malam terlewati.
Pria berpiyama itu berusaha mengejar mereka. Tapi di ujung jalan, ia hanya menemui kekosongan. Ketika batas kasat mata menghalau linu lampu. Dan sepanjang pandangannya, ia cuma bisa merasakan kantuk. Serta samar-samar teriakan seorang wanita yang tak diketahui arahnya. Pria itu cuma bisa kembali ke rumah. Tidur dengan mimpi yang sudah berganti.
"Floren, kau di mana?"

Read more...

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP